Pages

Sabtu, 02 Februari 2013

Mojokerto Tempo Dulu




 KOTA MOJOKERTO TEMPO DULU DALAM BINGKAI SEJARAH



                     Terminal bis pasar kliwon


Mojokerto sedang merayakan ulang tahun ke 90 pada tanggal 20 Juni 2008. Rekaman kehidupan Mojokerto beberapa tahun silam dapat dilacak dalam beberapa buku, fotografi, seni rupa maupun karya sastra. Salah satunya buku Modjokerto in de motregen. “Saya mendapatkan hadiah dari KITLV Perwakilan Jakarta sekitar 4 tahun lalu,” kata Abdul Malik, warga Kradenan, mengawali obrolan santai dengan Radar Mojokerto.
Modjokerto in de motregen merupakan rekaman perjalanan jurnalistik Willem Welveren (1887-1943) pada beberapa kota di Jawa dan Madura. Diterbitkan Koninklijk Instituut voor taal, land en volkenkunde (KITLV), Leiden , The Netherlands tahun 1998. Kota-kota yang disinggahi adalah Rembang, Semarang , Tuban, Rembang, Bangil, Pasir Putih, Panarukan, Kalianget, Bangkalan, Batu, Jombang, Mojokerto.
Buku setebal 158 halaman ini terbit dalam bahasa Belanda. 
Kesan-kesan Welveren ketika singgah di Mojokerto 27 Maret 1939 dapat dibaca pada halaman 143 sampai 147.





“Beruntung saya bertemu Laura, warga Belanda yang sedang berkunjung ke Mojokerto beberapa bulan lalu. Dia sempat membacakan dalam terjemahan bahasa Indonesia yang tidak begitu lancar.
”Dari hotel saya dapat melihat alun-alun.Disekitar hotel tumbuh banyak pohon pisang”, begitu kesan W.Walvaren yang ia tulis dalam buku tersebut. “Setelah saya telusuri ‘Hotel Esplanade’ tempat ia menginap adalah Penginapan Barat di Kradenan gang 2 no.39. Nama hotel tersebut juga tertulis dalam buku Lonely Planet yang merupakan buku panduan wisata tersohor di dunia.”
Saat ini Penginapan Barat telah berubah fungsi menjadi tempat kos.



“Welveren juga menyebut apotik, museum, kantor pos, museum dan Jalan Mojopahit dalam bukunya. Sepertinya dia berjalan dari Penginapan Barat menuju kantor pos dan melihat keramahan warga Mojokerto sepanjang perjalanan.”
Selanjutnya Malik mengatakan bahwa ,” Saya mencatat bahwa disetiap terminal bermunculan tempat menginap, losmen atau hotel. Sewaktu terminal Mojokerto berada di Pasar kliwon ada Penginapan Barat, terminal di Kranggan (sekarang Bentar) ada Hotel Tegalsari, terminal Panggreman (sekarang kantor PDAM Kota ) ada Hotel Nagamas.”




                  Menunggu kereta di stasiun kota mojokerto



                                    Stasiun mojokerto tempo dulu

Buku lain yang mencatat Mojokerto pada halaman-halamannya adalah Bung Karno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia , wawancara Cindy Adams dengan Bung Karno. Diterbitkan PT Gunung Agung, Djakarta 1966.
Bab Modjokerto: kesedihan dimasa muda menceriterakan masa kecil Bung Karno di Mojokerto, dapat dibaca mulai halaman 30 sampai 42.

“Sewa rumah kami sangat murah, karena letaknja kerendahan, dekat sebuah kali. Kalau musim hudjan kali itu meluap, membandjiri rumah dan menggenangi pekarangan kami. Dan dari bulan Desember sampai April kami selalu basah. Air menggenang yang mengandung sampah dan lumpur inilah jang mendjangkitkan penyakit typhusku. Setelah sehat kembali kami pindah ke Djalan Residen Pamudji. Rumah ini tidak lebih baik keadaannya, akan tetapi setidak-tidaknja ia kering.” (halaman 35).

“Dipagi hari aku bergembira, karena aku bersekolah disekolah Bumiputera, dimana kami semua sama. Kami semua tigapuluh orang murid di Inlandsche School kelas dua. Bapakku mendjadi Mantri-Guru jang berarti kepala sekolah. Orang Bumiputera dilarang memakai pangkat Kepala Sekolah.” (halaman 39).

Dimana dan bagaimana kondisi rumah dan sekolah Bung Karno saat ini?

Bagus Endro Kuncoro, warga Margosari menemukan beberapa foto Mojokerto Tempo Doeloe sewaktu surfing di internet. Gaguk, panggilan akrabnya, menemukan foto H.C. van de Bos, Walikota Mojokerto (14 Agustus 1922-29 Januari 1925), stasiun kereta api, kantor Telkom, pabrik gula di Sentanan Lor.

    Mas Syahroni, guru seni rupa SMAN 2 Kota Mojokerto juga kerap menjadikan sudut-sudut Mojokerto tempo dulu dalam karya lukis semisal Kantor Pengairan di Jalan A Yani, perempatan toko buku Hasan bin Sjeban, Pasar Tanjung, dll.

    Dua tahun lalu Biro Sastra Dewan Kesenian Kota Mojokerto membukukan puisi-puisi karya 14 penyair Mojokerto dalam sebuah antologi puisi berjudul Mojokerto Dalam Puisi. Mereka adalah Aming Aminoedhin, Andi Nurkholis, Chamim Kohari, Gatot Sableng, Hardjono Ws, Max Arifin, M Misbach, Mugianto, Faqih, Saiful Bakri, Suliadi, Suyitno Ethexs, Tausikal, Umi Salama.





         Jalan mojopahit tempo dulu


    Sejarah Mojokerto juga tertoreh pada buku Nasionalisme Dua Orang Kiai tentang KH Nawawi dan KH Akhyat Khalimi dan Garis Pertahanan Terdepan Revolusi, keduanya karya Drs H Abdullah Masrur.

Inilah mozaik untuk kado Kota Mojokerto ke 90.
(Harian Radar Mojokerto, 20 Juni 2008)







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar